Menara Babel

Judul: Menara Babel (Seri Cerita Alkitab untuk Anak Kecil)

Judul asli: Tower of Babel

Diceritakan kembali oleh: Anne de Graaf

Ilustrasi: José Pérez Montero

Penerjemah: Jenny Hari-Bernardus

Penerbit edisi bahasa Indonesia: PT BPK Gunung Mulia, 2008

Tebal: 38 halaman

Ukuran: 15,5 x 18 cm

Kamu mungkin pernah mendengar tentang Menara Babel. Tetapi apakah kamu mengetahui kisahnya? Buku ini bisa membantumu untuk mengetahui kisahnya.

Ceritanya, zaman dulu manusia berbicara dalam satu bahasa. Jadi, kamu bisa berbicara dengan menggunakan bahasamu sehari-hari saat kamu bercakap-cakap dengan orang dari benua lain. Asyik, ya?

Suatu kali orang-orang menemukan tanah datar dan mereka ingin membangun sebuah menara yang sangaaaat tinggi. Mereka pun ingin membangun kota yang sangat baik dan kota yang bisa mencapai surga.

Wah, rupanya mereka menjadi sombong! Tuhan menjadi tidak suka dengan mereka. Akibatnya Tuhan mengacaukan kata-kata mereka dan menciptakan bahasa yang berbeda-beda. Kota itu tidak pernah selesai dan diberi nama Babel, artinya kacau dan membingungkan.

Buku ini asyik banget! Dengan buku ini anak-anak bisa membaca kisah menarik dari Alkitab, dan tentunya mereka akan lebih memahaminya, karena disampaikan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Gambarnya pun bagus. Yang menarik, halaman tengah buku ini bisa ditarik jadi lebih panjang. Penasaran kan? Silakan kamu membacanya sendiri.

Buku ini cocok dibaca untuk anak-anak yang mulai belajar membaca. Tulisannya cukup besar dan dengan gambar yang menarik anak-anak tidak akan bosan.

Persahabatan Beruang Kutub dan Panda

Judul: Beruang Kutub dan Panda (Panda & Polar Bear)
Penulis dan pelukis: Matthew J. Baek
Penerjemah: Stela April
Ukuran: 20 x 20 cm
Tebal: 32 halaman
Penerbit: Kid Classic

Alkisah, ada dua ekor beruang. Yang satu adalah beruang panda, yang satu lagi beruang kutub. Sesuai dengan namanya, beruang panda tinggal di daerah yang hijau berumput, dan beruang kutub tentu saja tinggal di daerah bersalju.

Keduanya terpisah oleh sebuah tebing yang sangat tinggi. Rasanya tak mungkin mereka bertemu. Namun, beruang kutub merasa penasaran akan apa sebenarnya yang ada di balik tempat tinggalnya yang bersalju itu. Saking penasarannya, ia berjalan sampai ke tepi tebing itu dan … bluk! bluk! bluk! ia terjatuh ke tempat yang berlumpur. Ow, rupanya di tempat ia jatuh itu ia bertemu dengan beruang panda. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Apakah beruang panda tahu bahwa ia sebenarnya beruang kutub? Maklum, seumur-umur beruang panda itu kan belum pernah bertemu dengan beruang kutub ….

Sewaktu mengambil buku ini dari rak toko buku dan membawanya ke meja kasir, terus terang aku tidak terlalu berharap akan mendapati sisi menarik dari buku ini. Tetapi rupanya aku keliru, buku ini menarik sekali. Ceritanya unik. Ide yang diangkat dari buku cerita ini adalah mengenai betapa menariknya perbedaan itu.

Jika melihat profil pendek mengenai penulis buku ini, Matthew J. Baek, buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai orang pindahan. “Ia menyadari bahwa perbedaanlah yang membuat orang-orang menjadi menarik” (sampul belakang buku). Karya-karya Matthew J. Baek sudah terbit di Washington Post, USA Weekend, MacLife, dan Forbes.

Pierre Belajar Membuat Rumah Burung

Judul: Pierre Membuat Sarang Burung
Judul asli: Pierre joue a bricoler
Karya: Sandrine Deredel Rogeon/Gustavo Mazali
Penerbit edisi bahasa Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006
Ukuran: 20 x 20 cm
Tebal: 16 halaman

Kau sudah kenal dengan Pierre? Belum? Kalau begitu, mari kita berkenalan dengannya.

Pierre adalah seorang anak laki-laki yang manis dan cerdas. Dia punya seekor anjing bernama Rubi. Mereka memang sering bermain bersama.

Pierre punya banyak mainan. Tetapi kali ini, ia sudah bersenang-senang sepanjang hari dan bermain dengan semua permainannya. Lama-lama ia pun bosan, dan ia ingin bermain dengan Rubi. Dibangunkannya Rubi yang sedang tidur. “Rubiiii!!! Ayo bangun, anjing kecilku! Kita akan main bersama Ayah di garasi.”

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di kebun. Coba tebak, apa yang mereka dapati di sana? Ow, mereka menemukan anak burung yang jatuh dari sarangnya. Pierre ingin menolong anak burung itu dengan membuatkan rumah burung. Dia lalu menemui ayahnya untuk meminta kayu. Menurutmu, apakah Pierre dan Rubi dapat membuatkan rumah burung bagi anak burung itu?

Buku ini ceritanya menarik. Ceritanya kocak, dan menggambarkan betul seperti apa jika seorang anak laki-laki mencoba membuat rumah burung. Ada banyak hal yang ia alami. Dan tentunya ia belajar banyak.

Menurutku, buku ini bisa dibacakan untuk anak-anak kira-kira usia tiga tahunan saat mereka menjelang tidur. Selain itu, anak-anak usia lima atau enam tahun juga bisa membacanya saat mereka mulai belajar membaca, karena ceritanya sederhana dan tidak terlalu panjang. Dengan membaca buku ini mungkin mereka bisa melihat cerminan diri mereka sendiri dan tentunya ikut belajar bersama Pierre dan Rubi.

Memasak dan Piknik Bersama Lala

Judul: Piknik Seru (Seri Lala Koki Cilik)
Penulis: Anita Hairunnisa
Ilustrator: Nur Cililia
Ukuran: 26 x 21 cm
Tebal: 24 halaman
Penerbit: Little Serambi, Jakarta 2009

Nadya, Allan, dan Lala sejak kemarin sudah berencana akan piknik di taman kota. Mereka sudah tak sabar untuk berpiknik! Tentu saja, untuk piknik mereka akan membawa bekal. Apa yang akan dibawa oleh mereka?

Nadya sudah berencana akan membawa puding cokelat. Allan akan membawa mi goreng dengan bakso. Dua makanan itu adalah makanan kesukaan Lala. Lalu apa yang akan dibawa Lala? Lala bingung. Untunglah di jalan Lala bertemu dengan Clara, kakak kelasnya. Bekal yang dibawa Clara siang itu memberi ide kepada Lala. Apa ya makanan yang dibawa Clara? Apakah makanan yang dibawa Lala akan disukai oleh teman-temannya saat mereka berpiknik?

Ini adalah buku dwi bahasa: Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris. Cerita sederhana. Begitu pula kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dipakai dalam cerita ini. Ini khas buku dwi bahasa tulisan orang Indonesia. Saya tidak tahu ini kelebihan atau kekurangannya. Tetapi jika saya bandingkan buku dwi bahasa ini dengan buku dwi bahasa yang ditulis oleh orang asing (yang memang bahasa Inggris merupakan bahasa utama mereka), bahasa Inggris dalam buku ini jauh lebih sederhana. Hampir tak ada kata yang sulit. Jika dilihat dari sisi positifnya, buku ini cocok dipakai oleh anak-anak untuk belajar bahasa Inggris.

Ilustrasi dalam buku ini cukup bagus. Gambarnya mengambil porsi besar di setiap halaman.

Oya, di bagian akhir buku ini ada menu yang bisa dipraktikkan. Makanannya mudah kok! Anak-anak pasti menyukainya … :)

Judul: Jungle Drums, Genderang Hutan
Penulis: Graeme Base
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2006
Tebal: 40 halaman
Ukuran: 27 x 29 cm

Ini adalah cerita babi hutan kecil bernama Ngiri Mdogo. Namanya aneh ya? Ya, memang itulah namanya. Ia adalah babi hutan yang terkecil di Afrika. Karena tubuhnya yang sangat kecil itulah, ia sering jadi bulan-bulanan para babi hutan lainnya. Sebenarnya sih, babi-babi itu cuma mengolok-olok Ngiri karena mereka sendiri iri dengan binatang-binatang lain di seberang sungai. Kenapa mereka iri? Karena mereka punya warna dan bentuk yang indah–tidak seperti babi-babi hutan itu.

Karena sering diejek, Ngiri Mdogo kemudian pergi ke seberang sungai untuk bermain dengan binatang-binatang yang ada di sana. Tetapi apa yang terjadi? Ngiri justru mendapat ejekan yang lebih banyak. Ia ditertawakan Chui si Macan karena tidak punya totol-totol, juga diejek Punda Milia si Zebra karena tak punya garis-garis. Ah, sedihnya Ngiri.

Kemudian ia pun pulang. Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan Nyumbu Tua. Ia adalah sejenis rusa. Ia hewan yang paling tua dan bijaksana di seluruh hutan. Ngiri ingin semuanya berubah. Melihat Ngiri yang sedih, Nyumbu memberikan sepasang genderang ajaib yang bila dimainkan, akan mengabulkan keinginan kita. “Tapi ingat,” katanya, “keinginan kita bisa terwujud, tapi tidak selalu seperti yang kita inginkan.” Lalu apakah keinginan Ngiri akan terwujud? Seperti apa perubahan yang terjadi di hutan? Kenapa binatang-binatang di sana menjadi terkejut? Silakan menikmatinya yaaa …

Buku ini ukurannya besar sekali. Gambar-gambar di dalamnya memunculkan warna yang sangat bagus. Dan tentu saja, gambarnya besar-besar :)

Buku ini kubeli waktu ada diskon. Harganya cukup miring. Sepuluh ribu rupiah. Untuk buku anak-anak yang penuh warna dan dengan kertas yang bagus, harganya bisa dibilang cukup murah.

Nama-nama binatang yang ada di buku ini menggunakan bahasa Swahili. Di bagian paling belakang buku ini dijelaskan arti kata masing-masing nama binatang itu. Satu hal yang menarik, rupanya di tiap halaman buku ini secara samar-samar terselip gambar Nyumbu Tua. Jadi, selain menikmati cerita dan gambarnya, anak-anak bisa diajak untuk meneliti gambar dan menemukan si Nyumbu Tua :)

Franklin dan Geng Rahasianya

Judul: Klub Rahasia Franklin
Judul asli: Franklin Secret’s Club
Penulis: Paulette Bourgeois
Ilustrator: Brenda Clark
Penerjemah: C. Erni Setiyowati
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta 2008, cetakan ke-6
Ukuran: 19 x 21,5 cm
Tebal: 32 halaman


Sudah kenal dengan Franklin? Hayooo… siapa yang sudah? Beberapa anak mungkin sudah tahu Franklin ya. Franklin adalah seekor kura-kura yang imut. Selain dalam bentuk buku cerita, cerita Franklin ada yang sempat ditayangkan di televisi.

Dalam buku ini, ceritanya Franklin punya klub rahasia. Wah … wah … Franklin main rahasia-rahasiaan juga ya! Awalnya Franklin hanya mengajak Bear untuk masuk klub rahasianya itu. Tetapi kemudian Bear mengusulkan supaya juga mengajak Rabbit, dan Snail. Markasnya adalah tempat persembunyian yang tak jauh dari rumah Franklin. Anggota klub itu berkumpul setiap hari. Mereka makan roti dengan selai buah beri, membuat telepon-teleponan dari kaleng, dan membuat gelang dari makaroni. Dan Franklin senang sekali bermain dengan klub rahasianya itu sampai-sampai dia melupakan temannya yang lain. Aduh, nakal sekali ya dia!

Suatu kali Beaver, yang selama ini bersikap ramah terhadap Franklin, meminta supaya ia boleh menjadi anggota klub rahasia Franklin. Tetapi apa jawaban Franklin? “Kami tidak menerima anggota lagi. Tempatnya tidak cukup.” Akibatnya, Beaver jadi marah. Lalu, bagaimana dong pertemanan Franklin dan Beaver? Apakah mereka akhirnya tidak berteman lagi? Penasaran kan?

Bagiku kisah dalam buku ini menarik karena merekam hal-hal keseharian anak-anak. Biasa kan anak-anak suka membentuk geng dan biasanya anggota geng itu tertutup dengan teman-teman lain. Sama seperti klub rahasia Franklin itu. Penulis buku ini memberikan gambaran penyelesaian yang bagus sekali dalam mengatasi hal itu: Akhirnya mereka tetap memiliki kelompok tetapi tidak tertutup dengan teman-teman yang lain.

Kisah Bilip dari Kalimantan

Judul: Bilip Sahaya Anak Pedalaman Kalimantan (Seri Anak-anak Nusantara)

Penulis: Kitty dan Ray

Ilustrasi: Kitty

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2000

Ukuran: 20 x 28 cm

Tebal: 32 halaman

Buku ini kubeli saat ada pameran buku Ikapi di Jogja beberapa bulan lalu. Awalnya aku berniat tidak membeli buku apa-apa di pameran ini, tetapi karena ada diskon yang lumayan heboh, akhirnya aku tak tahan untuk membeli beberapa buku. Nah, buku ini adalah salah satu di antaranya. Buku ini kubeli cukup murah; harganya 5000 rupiah. Yang membuatku tertarik buku ini pertama-tama ya karena harganya yang cukup murah dan label: Seri Anak-anak Nusantara. Penasaran saja, seperti apa cerita anak yang mengambil setting budaya Indonesia (kalau buku ini: pedalaman Kalimantan).

Ceritanya ada anak bernama Bilip Sahaya. Ia anak suku Dayak Benuaq berusia 10 tahun yang tinggal di pedalaman hutan Kalimantan. Ia punya teman seekor bekatan bernama Usuk, seekor tarsius bernama Bulaai, dan Laiq seekor burung enggang gading. Di hutan itu mereka hidup bahagia, bermain bersama, dan mencari buah-buahan. Mereka berjanji akan menjaga kelestarian hutan.

Di sela-sela kehidupan mereka yang membahagiakan, rupanya ada pemburu yang gemar berburu binatang di hutan mereka. Bilip dan teman-temannya berusaha menggagalkan usaha pemburu tersebut, sampai akhirnya Bilip tertangkap. Teman-teman Bilip menolongnya dan memburu si pemburu tersebut. Oh, ternyata pemburu itu seorang direktur perusahaan kayu, yang anak-anak buahnya suka membabat hutan. Kelanjutannya? Ayo tebak….

Menurutku, cerita dan gambar di buku ini biasa-biasa saja. Tetapi ada bagian-bagian yang menarik yaitu penulis mencoba memasukkan nama-nama khas setempat. Di bagian belakang, ada bagian pengenalan tokoh. Di situ ada penjelasan yang membuat anak-anak bisa mengenal budaya Dayak, misalnya pada penjelasan tokoh Bilip Sahaya, dijelaskan bahwa motif naga pada pakaian Bilip dan motif burung enggang pada selendangnya berfungsi sebagai penolak bala. Sedangkan motif sulur pohon bermakna kesuburan. Penjelasan semacam ini menurutku cukup menarik, karena masih jarang buku (anak) yang mengangkat hal-hal tersebut.

Aku berharap ada banyak penulis yang membuat cerita anak yang menarik dengan mengangkat budaya Indonesia, sehingga anak-anak bisa lebih mengenal negerinya sendiri. Lagi pula, budaya Indonesia kan kaya sekali. Pasti banyak ide yang bisa diangkat.