Kisah Bilip dari Kalimantan

Judul: Bilip Sahaya Anak Pedalaman Kalimantan (Seri Anak-anak Nusantara)

Penulis: Kitty dan Ray

Ilustrasi: Kitty

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2000

Ukuran: 20 x 28 cm

Tebal: 32 halaman

Buku ini kubeli saat ada pameran buku Ikapi di Jogja beberapa bulan lalu. Awalnya aku berniat tidak membeli buku apa-apa di pameran ini, tetapi karena ada diskon yang lumayan heboh, akhirnya aku tak tahan untuk membeli beberapa buku. Nah, buku ini adalah salah satu di antaranya. Buku ini kubeli cukup murah; harganya 5000 rupiah. Yang membuatku tertarik buku ini pertama-tama ya karena harganya yang cukup murah dan label: Seri Anak-anak Nusantara. Penasaran saja, seperti apa cerita anak yang mengambil setting budaya Indonesia (kalau buku ini: pedalaman Kalimantan).

Ceritanya ada anak bernama Bilip Sahaya. Ia anak suku Dayak Benuaq berusia 10 tahun yang tinggal di pedalaman hutan Kalimantan. Ia punya teman seekor bekatan bernama Usuk, seekor tarsius bernama Bulaai, dan Laiq seekor burung enggang gading. Di hutan itu mereka hidup bahagia, bermain bersama, dan mencari buah-buahan. Mereka berjanji akan menjaga kelestarian hutan.

Di sela-sela kehidupan mereka yang membahagiakan, rupanya ada pemburu yang gemar berburu binatang di hutan mereka. Bilip dan teman-temannya berusaha menggagalkan usaha pemburu tersebut, sampai akhirnya Bilip tertangkap. Teman-teman Bilip menolongnya dan memburu si pemburu tersebut. Oh, ternyata pemburu itu seorang direktur perusahaan kayu, yang anak-anak buahnya suka membabat hutan. Kelanjutannya? Ayo tebak….

Menurutku, cerita dan gambar di buku ini biasa-biasa saja. Tetapi ada bagian-bagian yang menarik yaitu penulis mencoba memasukkan nama-nama khas setempat. Di bagian belakang, ada bagian pengenalan tokoh. Di situ ada penjelasan yang membuat anak-anak bisa mengenal budaya Dayak, misalnya pada penjelasan tokoh Bilip Sahaya, dijelaskan bahwa motif naga pada pakaian Bilip dan motif burung enggang pada selendangnya berfungsi sebagai penolak bala. Sedangkan motif sulur pohon bermakna kesuburan. Penjelasan semacam ini menurutku cukup menarik, karena masih jarang buku (anak) yang mengangkat hal-hal tersebut.

Aku berharap ada banyak penulis yang membuat cerita anak yang menarik dengan mengangkat budaya Indonesia, sehingga anak-anak bisa lebih mengenal negerinya sendiri. Lagi pula, budaya Indonesia kan kaya sekali. Pasti banyak ide yang bisa diangkat.

One thought on “Kisah Bilip dari Kalimantan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s